Creative Commons Unsplash

Menulislah Agar Kamu Dikenang

Creative Commons Unsplash
Creative Commons Unsplash

Banyak orang berpikir, di era komunikasi yang kaya dengan karya-karya visual, suara, serta status di media sosial, mengapa kita masih perlu menulis? Apa alasan menulis  dan seberapa penting menulis untuk kehidupan kita?

Pertanyaan seperti itu muncul saat kamu diminta untuk menuliskan laporan atau tugas paper di kampus. Atau, jika kamu terpaksa harus menulis atas permintaan yang tidak bisa kamu kendalikan. Kamu enggan menulis, tapi harus melakukannya.

Kamu barangkali berpikir, setelah lulus akan terjun ke industri IT, telekomunikasi, disain grafis, atau fotografi yang tak membutuhkan kemampuan menulis yang tinggi.

Kamu juga berkata orang bisa tahu isi pikiranmu dengan menulis di status singkat Facebook atau 140 karakter kicauan di Twitter, dan kamu mulai bertanya,”untuk apa saya menulis?”

Pertanyaan seperti itu kerap muncul di benak saya di masa-masa remaja hingga kuliah. Saat itu saya memang tidak terlalu tertarik bidang penulisan.

Ketika itu saya memang sudah menulis, tapi karena tugas atau perintah. Atau, saya menulis ocehan singkat. Saya tidak tertarik merangkai kata demi kata menuangkan isi pikiran saya dalam sebuah tulisan yang runut.

Saya akhirnya tahu alasan utama menulis ketika mengadakan workshop dengan komunitas Manna Doa di Yogyakarta.

Pembicara saat itu yang juga merupakan mentor saya, William Aipipidely, mengungkapkan alasan utama menulis adalah proses mencipta. Ketika kamu menulis maka kamu adalah sang pencipta.

Eskpresi diri memang dapat ditampilkan dalam berbagai bentuk termasuk seni gerak dan visual seperti tarian dan fotografi. Meski demikian menulis memiliki nilainya sendiri.

Jika kamu pernah belajar sejarah di sekolah, kamu akan mengingat bahwa menulis memiliki nilai penting dalam perjalanan sejarah sebuah bangsa. Satu bangsa dikatakan telah masuk ke dalam masa sejarah ketika bangsa itu telah melahirkan peninggalan berupa bahan-bahan tertulis.

Bangsa Mesir kuno telah memasuki masa sejarah pada masa kekuasaan Firaun ketika mereka sanggup meninggalkan materi terutilis berupa hieroglif dalam piramida.

Bangsa Indonesia sendiri masuk dalam masa sejarah pada abad ke-5 masehi. Kesimpulan itu diambil dari penemuan prasasti tertua di Indonesia dari kerajaan Kutai. Sebelumnya, di masa pra sejarah peninggalan manusia Indonesia hanya berupa alat-alat penunjang kehidupan untuk berburu atau mengolah bahan makanan.

Dengan kata lain, ketika kamu menulis kamu menciptakan sejarahmu sendiri.

Cerita lain terkait menulis adalah tentang kitab suci agama-agama di dunia. Umat suatu agama atau di luar agama itu dapat mengenal ajaran agama tersebut karena firman-firman yang tertulis dalam kitab suci itu.

Meski isi kitab suci adalah wahyu Ilahi, keberhasilan kitab suci melintasi zaman dan menjangkau banyak orang adalah karena wahyu-wahyu itu tertulis di lembar-lembar papirus, perkamen, kulit hewan, atau batu prasasti.

Sebenarnya banyak alasan untuk menulis dan semakin dewasa kamu dalam proses ini maka peluang untuk memengaruhi banyak orang semakin terbuka.

Kamu yang menggunakan Facebook pasti tahu bagaimana tulisan-tulisan dapat memengaruhi netizen untuk sekadar berkomentar, membagi, hingga mengambil tindakan nyata.

Saya tidak mendorong anda memprovokasi Facebookers seperti yang dilakukan Jonru Ginting, tapi kemampuan Jonru (terlepas apakah ia atau orang lain yang menulis) dalam menulis posting yang membakar merupakan salah satu contoh bagaimana tulisan memengaruhi massa. Jangan pula lupakan peran media massa seperti surat kabar atau media online yang memang fungsi dan pekerjaannya adalah untuk menyampaikan kabar kepada massa.

Percayalah, apapun pekerjaanmu menulis akan selalu menjadi bagian dari pekerjaan itu.

Masyarakat umum juga menilai hal-hal yang ditulis adalah sesuatu yang penting dan bersifat resmi atau legal. Karya kamu baru dianggap serius jika ada tulisan yang menyertainya.

Pameran seni di manapun, juga membutuhkan penjelasan tertulis.

Saya tahu keenganan utama untuk menulis adalah perasaan takut. Saya mengalaminya sendiri. Ketakutan itu mendorong saya secara tidak sadar menilai tulisan saya buruk atau tak menginspirasi.

Belum juga menulis saya sudah berpikir. ‘memangnya siapa yang akan membaca tulisan saya?’

Satu-satunya upaya untuk melawan itu adalah dengan menulis apapun di dalam benak saya. Saya berusaha menulis tanpa memikirkan siapa yang akan membacanya.

Bisa jadi, pada akhirnya hanya kamulah yang akan membacanya. Kamu menulis karena menulis menjadi terapi untuk kehidupan. Seperti yang dilakukan oleh Dahlan Iskan ketika menjalani operasi cangkok hati delapan tahun lalu. Ia disarankan untuk sebentar berhenti bekerja dan dijauhkan dari laptopnya, tapi ia ngeyel dan terus menulis karena lewat proses menulis ia merasakan kesembuhan.

Semakin sering kamu menulis maka semakin lincah otakmu meracik kata demi kata.

Saya selalu menulis lebih dulu dengan pulpen dan kertas. Saat mata pena menyentuh kertas, otak saya mulai bekerja menuntun jari tangan kanan. Ketika itulah saya menciptakan sejarahku sendiri.

Menciptakan sejarah sendiri adalah hasil utama ekspresi lewat proses menulis. Kamu barangkali tidak menghasilkan uang lewat menulis buku, konten, artikel, atau blog.

Kamu juga tidak memiliki klien yang membayarmu sebagai copywriter. Tapi tulisanmu akan melekat pada kehidupanmu.

Kita banyak terpesona oleh catatan-catatan harian dari masa lampau. Surat- surat RA Kartini atau Buku Harian Anne Frank hanya sedikit contoh. Di masa depan, bukan tidak mungkin seseorang akan terinspirasi ketika membuka catatan harian peninggalanmu, atau saat menjelajahi arsip blogmu.

Tulisan akan membuat orang mengenal siapa dirimu. Jadi, menulislah jika ingin dikenang.

Leave a Comment