man-1454744_1280

Storytelling, Kunci Supaya Tulisan Perjalananmu Tampil Beda

CC Pixabay
CC Pixabay

Traveling atau melakukan perjalanan kini menjadi gaya hidup sebagian orang. Entah itu melakukan kunjungan ke tempat-tempat baru di dalam kota, refreshing ke kota atau desa tetangga, pulang kampung, atau mengunjungi berbagai negara dan melihat keunikan di sana.

Harga tiket yang semakin murah serta banyaknya tawaran akomodasi murah bahkan gratis membuat tren traveling tak lagi dimonopoli mereka yang punya duit melimpah.

Karena itu,  kita bisa menemukan tulisan-tulisan perjalanan bertebaran di internet dan media cetak. Para musafir itu membuat blognya sendiri atau berpartisipasi dalam blog komunitas atau jurnalisme warga seperti Kompasiana atau Phinemo.

Dari sekedar berbagi pengalaman, ternyata tak sedikit catatan perjalanan itu menghasilkan uang. Mulai dari honorarium artikel yang dimuat di media, tawaran penyusunan buku, review produk, hingga jalan-jalan gratis dibiayai oleh sponsor. Nah, banyak juga penulis artikel perjalanan terdorong untuk mendapatkan keuntungan tersebut.

Masalahnya, bagaimana menulis artikel perjalanan yang segar dan tidak melulu soal bagaimana cara atau How To?

Salah satu penulis perjalanan dari Great Escape Publishing, Sophie Parmantier dalam blognya bercerita, artikel perjalanan yang baik adalah jika sang penulis mampu bertutur dan menggambarkan perjalanannya. Bukan secara umum, tapi momen-momen tertentu di dalam perjalanan.

“Jika anda mengontak sebuah majalah atau penerbitan dan mengatakan anda memiliki artikel perjalanan ke suatu tempat namun tak memberikan angle tertentu, pasti anda akan mendapat jawaban, ‘Tidak, terima kasih’ atau bahkan diabaikan sama sekali. Penerbit mendapat ratusan tawaran seperti ini dan yang mereka inginkan adalah sesuatu yang original, asli,” kata Parmantier.

Untuk mendapatkan keaslian itu Parmantier menyarankan penulis untuk berpikir di luar kebiasaan, lain dari yang lain. Lebih berani menawarkan hal yang tak terpikirkan sebelumnya.

Parmentier mencontohkan di salah satu bulan Oktober ia pernah melakukan perjalanan selama dua bulan ke Kanada. Saat kembali ke rumah, ia berhasil menjual 10 halaman artikel untuk sebuah majalah.

“Artikel sederhana soal indahnya Montreal tidak akan menarik pembaca. Tapi cerita tiga hari bersama masyarakat asli di Utara Montreal akan lebih menjual,” kata Parmantier

Tulisan itu sanggup melunasi biaya penerbangan dan akomodasinya. Editor majalah itu kemudian memintanya untuk mencari komunitas-komunitas lokal di tempat lain dan bersedia membayar biayanya meski Parmantier sendiri sebenarnya akan membayar sendiri biaya perjalanan itu.

Dalam satu perjalanannya ke komunitas Atikamekw di satu lembah di Quebec Parmantier memancing di danau, bermain kano, tidur di tenda Indian dan mendengar cerita legenda di samping api unggun. Parmantier tak mengeluarkan uang untuk semuanya itu berkat keberaniannya mengangkat kisah-kisah yang original.

Bercerita atau storytelling merupakan trend tulisan perjalanan saat ini. Travel writer paling terkenal se-Indonesia, Trinity, saat mengisi salah satu sesi di Makassar International Writer Festival 2015 menyarankan para musafir menulis hal-hal yang remeh, terutama para pemula. Anda tidak perlu membayangkan tulisan perjalanan seperti di National Geographic atau Reader’s Digest, namun hal-hal remeh sebenarnya menunjukkan keaslian dan bukti perjalanan sang penulis.

 

Tulisan terkait:

Tips Membuat Blog

Asah 5 Kemampuan Ini Jika Kamu Ingin Mendapat Uang Dengan Menulis Artikel

Leave a Comment